by Restaditya Harris
Latar Belakang
Selat Sunda yang berada di antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera, telah menjadi jalur lintasan kapal laut sejak lama. Selat Sunda tidak hanya menghubungkan Australia melalui Samudera Hindia dengan daratan Asia, tetapi juga menghubungkan dua pulau utama di Republik Indonesia ini, yaitu Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Pada selat ini terdapat dua pelabuhan penyeberangan antar pulau yaitu di Merak, Banten, pada sisi Pulau Jawa dan di Bakauheni, Lampung, pada sisi Pulau Sumatera. Dua pelabuhan ini melayani seluruh aktifitas perdagangan dan kegiatan lainnya antara kedua pulau tersebut. Selat Sunda sudah sejak lama menjadi jalur pelayaran internasional antara Australia dengan daratan Asia dan juga dilalui kapal berbagai jenis serta kebangsaan.
Selat Sunda memiliki lebar pada titik penyeberangan sekitar 37 kilometer dengan beberapa pulau kecil di tengah-tengahnya, termasuk Gunung Anak Krakatau yang masih aktif. Dengan lebar 39 kilometer, perjalanan kapal laut memakan waktu 1,5-2 jam untuk sekali penyeberangan. Pada beberapa tahun belakangan ini, kerap terjadi kemacetan akibat antrian kendaraan pengangkut barang di jalan tol menuju merak. Alasan yang diutarakan sebagai penyebab kemacetan itu adalah buruknya manajemen pengelolaan pelabuhan dan kurangnya armada kapal feri. Untuk mengatasi persoalan itu, pemerintah teringat kepada sebuah ide revolusioner untuk membangun Jembatan Selat Sunda (JSS) yang sudah terlebih dahulu dicetuskan pada tahun 1960 oleh Prof. Sedyatmo dari Institut Teknologi Bandung.
Jembatan Selat Sunda yang direncanakan memiliki panjang 31 kilometer dan melalui 2 pulau kecil ditengah-tengah Selat Sunda merupakan bagian dari rencana Trans Asia Highway dan Trans Asia Railway. Sebenarnya ide mengenai JSS ini sudah lama berada di benak para insinyur terkemuka Indonesia di Institut Teknologi Bandung, bahkan mereka sudah melakukan studi mengenai rencana pembangunannya seperti yang dilakukan oleh Prof. Wiratman Wangsadinata dan Dr.Ir. Jodi Firmansyah pada tahun 1997. Pembangunan Selat Sunda diharapkan dapat membantu mengatasi persoalan di Pelabuhan Merak dan Bakauheni, serta meningkatkan perekonomian kedua pulau yang terhubung.
Data-data dan Perkiraan
· Kapasitas Jalan Tol Jembatan Selat Sunda
JSS memiliki kapasitas maksimum 160.000 kendaraan roda 4 atau lebih dan 31.000 motor setiap hari. Diperkirakan kapasitas maksimal adalah 550.000 orang per hari.
· Kapasitas Angkut Kereta Api Jembatan Selat Sunda
Kereta api dapat mengangkut 1,75 juta ton barang setiap tahun atau 4700 ton per hari. Satu gerbong kereta ekonomi dapat memuat 100-150 orang dan setiap rangkaian kereta terdiri dari 10 gerbong, sementara kereta eksekutif dapat mengangkut 50-75 orang per gerbong dengan rangkaian 8-10 gerbong. Diperkirakan bahwa dalam sehari kereta api dapat mengangkut 300.000 penumpang melintasi selat sunda.
· Kapasitas Angkut Kapal Feri Selat Sunda
Kapal feri dapat mengangkut sekitar 1000 orang dan sekitar 50-80 mobil dan motor untuk sekali penyeberangan. Kapal feri yang tersedia bersama kapal cepat berjumlah sekitar 33 kapal dengan total kapasitas angkut 240.000 orang dan kendaraan sekitar 13.000 setiap harinya.
· Estimasi Biaya Pembuatan Jembatan Selat Sunda
Biaya pembuatan Jembatan Selat Sunda diperkirakan paling minimal akan mencapai 140 trilliun rupiah dan dapat juga lebih. Biaya tersebut bahkan belum termasuk biaya perawatan.
· Estimasi Perbaikan Pelabuhan dan Armada Kapal Feri di Selat Sunda
Untuk perbaikan pelabuhan, dapat dikatakan 1,5 trilliun rupiah untuk Pelabuhan Merak dan Bakauheni akan sangat membantu meningkatkan kualitas kedua pelabuhan tersebut. Biaya pengadaan kapal feri berbobot mati 4.000 ton sekitar 500 milliar rupiah dengan kapasitas angkut 1000 orang serta 50-80 mobil dan motor.
· Waktu Tempuh Moda Transportasi Melintasi Selat Sunda
Waktu tempuh menyeberangi Selat Sunda menggunakan kapal mencapai 1,5-2,5 jam. Lamanya waktu penyeberangan menggunakan kapal diakibatkan buruknya manajemen proses keluar-masuk kendaraan di pelabuhan. Waktu tempuh dengan kereta api dan kendaraan roda 4 atau lebih hanya sekitar 30 menit.
· Kawasan Ekonomi dan Infrastruktur Pendukung
Rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda akan dilanjutkan dengan pengembangan daerah ekonomi khusus disekitar jembatan dan infrastruktur pendukung. Jembatan Selat Sunda tidak akan berfungsi jika tidak didukung oleh infrastruktur tambahan di Pulau Jawa dan Sumatera seperti jalan tol dan rel kereta api. Karena itu, diperlukan sekitar 20-50 trilliun lagi untuk mewujudkan infrastruktur pendukung ini termasuk biaya-biaya perawatan.
Permasalahan
Jembatan Selat Sunda bukanlah sebuah jembatan yang sering kita lihat sehari-hari. Jembatan ini memiliki berbagai permasalahan mulai dari masalah teknis hingga dana. Tidak dapat dipungkiri bahwa masalah teknis dalam pembangunan jembatan ini sangat besar sebagai akibat lokasi geografisnya. Jembatan ini berada di dekat Gunung Anak Krakatau yang masih aktif, selain itu juga dekat dengan ring of fire dan patahan lempeng tektonik. Masalah dari sisi pendanaan adalah, uang sebesar 100 trilliun bukan jumlah yang sedikit bagi bangsa Indonesia. Indonesia pada kenyataannya sampai saat ini masih memiliki defisit APBN dan hutang dalam jumlah besar.
Analisis Positif Negatif Pembangunan JSS
· Ekonomi
Sisi positif:
§ Menjadi infrastruktur yang akan menopang pertumbuhan ekonomi Pulau Jawa dan Sumatera untuk jangka waktu panjang.
§ Menjadi infrastruktur yang akan mempercepat arus barang dan jasa antar kedua pulau di tahun-tahun mendatang.
§ Menciptakan banyak lapangan pekerjaan baru ketika konstruksi dimulai hingga selesai.
§ Menciptakan nilai tambah ekonomi bagi kawasan di sekitar JSS.
Sisi negatif:
§ Menelan biaya yang sangat besar dan akan memberatkan APBN tahun-tahun ketika konstruksi dimulai, termasuk ketika jembatan selesai dan perlu perawatan.
§ Pembiayaan dari pihak swasta sebaiknya digunakan untuk membangun industri lain terlebih dahulu atau memperbaiki infrastruktur yang sudah ada.
§ Rencana pembiayaan dengan obligasi pemerintah akan menambah hutang pemerintah.
§ Akan mematikan industri dan jasa penyeberangan menggunakan kapal feri seperti di Jembatan Suramadu.
· Sosial
Sisi positif:
§ Mempercepat interaksi dan perpindahan masyarakat antar kedua pulau.
§ Jika rencana Asia Trans Highway dan Asia Trans Railway terwujud, maka akan memudahkan Indonesia untuk berinteraksi dengan daratan Asia.
Sisi negatif:
§ Dampak lanjutan dari hilangnya industri dan jasa pelayaran akan menciptakan pengangguran baru.
§ Akan menyulitkan pelayaran di Selat Sunda karena terhalang jembatan.
§ Psikologis masyarakat yang belum siap seperti di Jembatan Suramadu sehingga terjadi perusakan dan pencurian material jembatan.
· Teknis dan Infrastruktur
Sisi positif:
§ Kemampuan teknis dan perencanaan sudah dimiliki oleh insinyur-insinyur Indonesia dari PT Wijaya Karya Tbk, Institut Teknologi Bandung, dan instansi lainnya.
§ Kemampuan untuk suplai material sudah dimiliki oleh PT. Krakatau Steel Tbk dan berbagai industri dalam negeri lainnya.
Sisi negatif:
§ Jembatan Selat Sunda akan memiliki suspension bridge dengan main span jauh lebih panjang daripada jembatan yang sudah dibangun di dunia sebelumnya, sehingga tidak ada acuan yang nyata dalam pembangunannya.
§ Lokasi Jembatan Selat Sunda sangat dekat dengan patahan lempeng tektonik dan Gunung Anak Krakatau yang masih aktif dan selalu terjadi gempa-gempa.
§ Jembatan Selat Sunda yang berada di tengah laut sangat rentan terhadap angin dan dinamika cuaca lainnya.
· Politik
Sisi positif:
§ Pemerintah memiliki niat yang kuat untuk mewujudkannya, termasuk pemerintah daerah di Banten dan Pulau Sumatera.
§ Keberhasilan proyek ini akan meningkatkan popularitas pemerintah dan prestise Indonesia di dunia internasional.
Sisi negatif:
§ Niat kuat pemerintah ini dimiliki oleh Kabinet Indonesia Bersatu II, jika pemerintahan ini berakhir dan begitu juga jajaran pemerintah daerah serta DPR/DPRD, keberlangsungan proyek dapat tersendat kemudian. Apalagi proyek ini dibagi menjadi beberapa segmen, sehingga dana yang dikeluarkan tidak sekaligus dan pada akhir dilakukan evaluasi.
§ Isu politik dari pembangunan jembatan ini dapat dimanfaatkan pihak-pihak oposisi pemerintah sehingga menciptakan ketidakstabilan jalannya proyek.
§ Pada saat ini masih banyak pihak yang skeptis akan keberhasilan proyek ini.
· Pertahanan
Sisi positif:
§ Jembatan Selat Sunda akan menjadi aset pertahanan strategis negara untuk mempermudah perpindahan aset-aset pertahanan sipil dan militer jika dibutuhkan.
Sisi negatif:
§ Jembatan Selat Sunda sebagai infrastruktur penunjuang mobilitas sipil dan militer akan lebih rentan untuk hancur dibandingkan penggunaan armada kapal ketika keadaan perang.
Setelah melihat sisi positif dan negatif dari pembangunan Jembatan Selat Sunda, saya melihat ada lebih banyak keuntungan untuk jangka waktu panjang dari pembangunan jembatan ini. Seperti yang kita sadari, seiring bertambahnya penduduk di Indonesia di masa depan, Pelabuhan Merak dan Bakauheni sudah dapat dipastikan akan semakin padat dan lalu lintas kapal juga akan menjadi semakin banyak. Perluasan pelabuhan terhalang oleh luas lahan dan penambahan armada kapal akan menyebabkan padatnya lalu lintas di Selat Sunda sehingga potensi terjadi kecelakaan antar kapal lebih besar.
Akibat semakin padatnya lalu lintas itu, bukan hal yang mustahil bahwa nantinya akan terdapat banyak jembatan-jembatan Selat Sunda lain di masa depan. Pembangunan Jembatan Selat Sunda ini, diharapkan akan menjadi model dan contoh dari rekayasa infrastruktur yang sukses bagi rencana-rencana mengatasi masalah lalu lintas antar pulau di Indonesia. Memang ini adalah proyek yang sangat besar, banyak tantangan, belum ada contoh nyata, dan lain-lainnya. Akan tetapi, jika tidak dicoba, bagaimana mitos-mitos kegagalan yang menghantuinya akan lenyap?
Sisi negatif dari pembangunannya seperti dana yang besar, dampak sosial, politik, dan pertahanan saya anggap sebagai suatu permasalahan yang sangat klasik dan seharusnya dapat diatasi oleh semua pihak. Sebaiknya ketika jembatan tersebut dibangun setahap demi setahap, pemerintah dan swasta tetap membangun industri lainnya menggunakan dana yang ada. Sehingga penciptaan industri baru tersebut akan memberikan pemasukan bagi APBN. Hanya dari sisi teknis dan infrastruktur yang saya rasa memang sebagai faktor alam, namun perencanaan yang baik dari insinyur-insinyur Indonesia tentu akan mengurangi resiko dari alam itu.
Saya juga menawarkan solusi bagi permasalahan tentang hilangnya industri dan jasa pelayaran di Merak dan Bakauheni dan masalah politik. Pelabuhan Merak dan Bakauheni dapat dijadikan pelabuhan bagi nelayan, atau untuk barang-barang konsumsi dan produksi bagi industri serta rumah tangga di kawasan, yang kita kenal dengan baik sudah memiliki banyak industri besar. Selain itu, kapal-kapal jasa pelayaran dapat dialihkan sebagian ke daerah di Indonesia yang masih membutuhkan tambahan kapal feri dan kapal cepat untuk penyeberangan antar pulau. Permasalahan di bidang politik seharusnya tidak perlu terjadi jika setiap pihak yang berkepentingan merasa dirinya sebagai Bangsa Indonesia dan bangga akan hal itu. Selain itu kesinambungan proyek ini perlu dijamin oleh suatu bentuk hukum yang sangat luar biasa mengikat sehingga dapat diselesaikan tanpa hambatan.
Kesimpulan
Pada akhirnya setelah saya meninjau semua data, perkiraan, dan dengan pertimbangan akal sehat, saya MENDUKUNG pembangunan Jembatan Selat Sunda. Karena pada akhirnya Indonesia juga akan membutuhkan banyak jembatan-jembatan seperti ini, sehingga kapan lagi harus dimulai jika tidak dari sekarang.