Friday, 25 February 2011

Jembatan Selat Sunda : Prestige vs Non-sense

jss1Proyek Jembatan Selat Sunda (JSS) merupakan sebuah megaproject Indonesia untuk membangun sebuah jembatan yang menghubungkan dua pulau besar di barat Indonesia yaitu Pulau Sumatra dan Pulau Jawa yang melintas di atas Selat Sunda. Konstruksinya dipimpin oleh PT Bangungraha Sejahtera Mulia. Panjang total jembatan ini sekitar 31 kilometer dengan rute yang terbagi menjadi enam. Jembatan Selat Sunda menggunakan konstruksi suspension bridge dengan bentangan utama yang terpanjang adalah 3 kilometer. Lebar ruas jembatan ini sekitar 60 meter dengan rincian : 2x3 jalur jalan raya, 2x1 jalur rel kereta api, dan 2x1 jalur darurat. Agar tidak menganggu lalu lintas perairan Selat Sunda, bagian clearance jembatan suspensinya dibuat lebih tinggi yaitu 65 meter dari permukaan laut. Posisi Jembatan Selat Sunda cukup dekat dengan Gunung Krakatau yaitu sekitar 40 kilometer. Jika konstruksi Jembatan Selat Sunda dapat diselesaikan pada tahun 2025, jembatan ini akan menjadi jembatan terpanjang di dunia.

Proyek Jembatan Selat Sunda diprediksi menelan anggaran sekitar 100 triliun rupiah dengan kurs dolar Amerika saat ini. Hal ini memunculkan pendapat kontra untuk membangun Jembatan Selat Sunda. Beberapa pakar yang diwawancarai media-media ada yang mengemukakan agar dana yang sangat besar itu digunakan untuk pelabuhan karena Indonesia merupakan negara maritim. Ada juga yang berpendapat bahwa pembangunan Jembatan Selat Sunda tidak masuk akal karena posisinya dekat dengan gunung aktif yang pernah membunuh ratusan ribu jiwa dan juga impian untuk menjadikan jembatan terpanjang dunia. Pro dan kontra terus bermunculan.

Pertama-tama, kita akan mencoba melihat segi positif dari Jembatan Selat Sunda dengan melihat kondisi saat ini dan beberapa pengalaman yang lalu. jss3

  • Jembatan Selat Sunda memberikan keuntungan dari segi perekonomian. Seperti yang kita tahu, Pulau Jawa merupakan pulau yang terpadat dan terbanyak penduduknya, serta menjadi pusat roda perekonomian Indonesia. Pulau Sumatra sudah mulai menggerakkan roda perekonomiannya dan sedang berkembang. Selain itu, Pulau Sumatra dekat dengan perbatasan Singapura dan Malaysia terutama di Pulau Batam. Jika kedua pulau ini dihubungkan, perekonomian yang membutuhkan lalu lintas darat akan menjadi lebih mudah, tidak perlu menunggu kapal ferry, dan juga jika pihak Asian Highway Network (Trans Asia Highway dan Trans Asia Railway) mengusulkan nantinya untuk membuat jalur darat dari Pulau Sumatra – Pulau Batam – Singapura – Malaysia, Indonesia sudah siap karena Pulau Sumatra sudah terhubung dengan Pulau Jawa.
  • Efisiensi waktu perjalanan ke pedalaman Sumatra maupun Jawa. Jalur darat merupakan satu-satunya jalur yang bisa merambat hingga pedalaman dari kota-kota besar dan metropolitan. Dengan adanya Jembatan Selat Sunda, lalu lintas di darat akan menjadi lebih cepat dibandingkan dengan lalu lintas perairan. Jika menggunakan kapal perlu waktu untuk bongkar muat dan juga transportasi ke daratnya.
  • Rencana konstruksi Jembatan Selat Sunda adalah membagi menjadi beberapa segmen, sehingga pembangunannya bisa dilakukan secara bertahap. Dengan pembangunan yang bertahap, dana yang digunakan bisa diatur terlebih dahulu dan dievaluasi sebelum pembangunan segmen berikutnya.
  • Penataan dan pembangunan di daerah sekitar ujung Jembatan Selat Sunda. Videjss4o mengenai Jembatan Selat Sunda di Youtube menganimasikan rencana pembangunan daerah-daerah tersebut dengan semacam kompleks perkantoran. Tentu saja bisa dipakai untuk mempermudah perusahaan-perusahaan yang pendistribusian barang-barangnya melewati Jembatan Selat Sunda.
  • Jika konstruksi sudah selesai termasuk proses instalasi perlengkapan tambahan dan siap digunakan, Jembatan Selat Sunda akan menjadi simbol kebanggaan bangsa Indonesia bahwa Indonesia bisa membangun sebuah suspension bridge dengan main span terpanjang di dunia.

Segi-segi positif yang telah disebutkan di atas masih banyak yang bersifat futuristik, artinya masih menjadi angan-angan yang bisa saja lama atau tidak untuk direalisasikan, sehingga banyak pakar-pakar infrastruktur serta media-media yang merasa pesimis konstruksi Jembatan Selat Sunda akan menjadi sesuatu yang mubazir.

Selanjutnya kita akan coba tinjau segi negatif dari konstruksi Jembatan Selat Sunda serta solusi apakah yang cocok untuk mengalihkan tujuan dari dana sebesar 100 triliun rupiah tersebut.

  • Jembatan Selat Sunda berada di daerah yang sangat riskan dengan bencana alam. Pertama yang akan terlintas ada Gunung Krakatau serta dampak sampingannya adalah gempa bumi. Jarak linear terdekat jss2Jembatan Selat Sunda dengan Gunung Krakatau adalah sekitar 50 kilometer (pengukuran dengan Google Earth). Kemungkinan kecil untuk material akibat erupsi Gunung Krakatau sampai di Jembatan Selat Sunda, tetapi untuk gulungan abunya bisa saja mengganggu meskipun skala kecil. Pastinya pengelola akan menetapkan status siaga dan menutup sementara Jembatan Selat Sunda. Dampak buruknya yang perlu dikhawatirkan adalah gempa vulkanik yang ditimbulkan. 50 km jarak horizontal bukanlah jarak yang jauh. Jika struktur jembatannya tidak dihitung secara cermat, kemungkinan akan terjadi kolaps atau hanya keretakkan (secara tidak langsung menyebabkan kolaps). Jika ada pengguna yang berada di tengah-tengah ruas jembatan, tentunya akan menimbulkan kepanikkan luar biasa dan menyebabkan kekacauan lalu lintas.
  • Selat Sunda merupakan jalur penting untuk lalu lintas perairan. Tiang-tiang pancang yang digunakan untuk pondasi tentunya akan mengganggu kapal yang akan lewat bahkan bisa saja terjadi tabrakan yang bisa merubuhkan jembatan. Meskipun pada bagian suspension bridge dibuat clearance yang tinggi (sekitar 65 meter), tetapi kapal yang melintas menjadi tidak nyaman dan bahaya tabrakan dengan pondasi tetap ada.
  • Pembangunannya memakan waktu yang lama, sedangkan kondisi Jalan Tol Jakarta-Merak benar-benar membutuhkan solusi untuk mengurangi kemacetan yang sangat parah. Tujuan akhir daripada Jembatan Selat Sunda tentunya untuk mengurangi kemacetan, tetapi ditakutkan selama proses konstruksi akan menyebabkan kemacetan yang bisa lebih panjang, terutama untuk penyambungan ruas jembatan dengan ruas jalan utama Anyer. Meskipun mungkin tidak akan menggunakan waktu lama, tetapi dampaknya sangat besar terutama untuk perekonomian.
  • Biaya tambahan setelah proses kontruksi akan terus mengucur. Jembatan sepanjang Jembatan Selat Sunda tentunya membutuhkan jadwal pengawasan dan perawatan yang disiplin dan teratur. Agar pengawasan dan perawatan semacam itu dapat terjadi, tentunya harus sebanding dengan jumlah dana yang dikeluarkan. Dana yang diperlukan akan sangat besar terutama untuk perbaikan jalan rusak (biaya transportasi), kebersihan Jembatan Selat Sunda, dan yang terpenting adalah pengawasan terhadap konstruksi. Coba saja dihitung berapa jumlah tiang pancang yang digunakan, berapa panjang kabel untuk jembatan, berapa panjang ruas Jembatan Selat Sunda, berapa panjang bagian jembatan yang kotor dengan sampah dari ujung jembatan di Pulau Jawa hingga ujung lainnya di Pulau Sumatra.

Sisi negatif pembangunan Jembatan Selat Sunda cukup realistis untuk dibayangkan, tidak seperti kebanyakan sisi positifnya yang futuristik. Proses konstruksi direncanakan akan selesai tahun 2025 dan sudah siap digunakan serta akan menjadi jembatan terpanjang di dunia. Tetapi negara-negara lain juga tidak mau kalah untuk membuat jembatan terpanjang di dunia. Faktanya sekarang adalah banyak negara yang lebih maju dari Indonesia baik dari segi ilmu maupun segi finansial. Bahkan bisa saja negara seperti Jepang, China, Amerika Serikat, dan lainnya yang baru merencanakan akan lebih dahulu selesainya dibandingkan proses konstruksi Jembatan Selat Sunda, atau setidaknya selesai tidak lama setelah proses konstruksi Jembatan Selat Sunda. Nampaknya memang orientasi utama dari pembangunan Jembatan Selat Sunda adalah untuk sekedar kebanggaan. Dari segi ekonomi nampaknya masih sedikit jika dilihat dari kondisi perekonomian Indonesia serta sistem-sistem ekonomi dan korupsi yang terus membuntuti.

Menurut pendapat saya, saya tidak setuju dengan pembangunan Jembatan Selat Sunda. Dari perbandingan antara segi positif dan segi negatif Jembatan Selat Sunda, segi negatif lebih kuat karena realistis dan koheren dengan kondisi yang ada sekarang ini dari berbagai sektor kehidupan. Kemacetan di Merak membutuhkan penyelesaian masalah secepatnya, bukan penyelesaian yang akan terjadi dalam kurun waktu 14 tahun lagi bahkan lebih. Indonesia juga membutuhkan penyelesaian masalah dari lalu lintas perairan dengan segera. Mungkin dana sebesar 100 triliun rupiah bisa digunakan untuk membuat pelabuhan pada beberapa kota di pesisir yang membutuhkan, perbaikan pelabuhan, perbaikan sistem lalu lintas perairan, dan sebagainya. Jembatan Selat Sunda bisa jadi bukan pemecahan masalah yang ampuh, tetapi tetap diharapkan agar Jembatan Selat Sunda nantinya dapat mematahkan berbagai keraguan dari berbagai pihak dan dapat menjawab persoalan-persoalan yang ada.

3 comments:

  1. Jadi kesimpulannya, setuju atau ngga Albert?:)

    ReplyDelete
  2. Numpang promosi blog jualan gw aja http://homeland-furniture.blogspot.com

    ReplyDelete
  3. hahahahahahah resta kenapa lo sampe jualan disini sih

    ReplyDelete